(Misi suci agama-agama dalam praksis pembebasan)
Suhermanto Ja’far
Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya
ABSTRAK
Penelitian ini didasarkan atas latar belakang maraknya gerakan-gerakan pembebasan melalui pintu teologi yang dipengaruhi oleh analisis sosialisme-Marxisme. Kalangan agamawan mencoba mencari pendasaran ontologis, epistemologis maupun axiologis. Pendasaran ini berangkat dari misi profetis agama-agama yang juga mempunyai kepedulian terhadap tegaknya keadilan dengan menghilangkan praktek penindasan. Misi profetis agama merupakan gerakan profetis melalui teologi yang menjadi ideology revolusioner kaum tertindas. Disinilah gerakan pembebasan merupakan teologi profetika dalam agama-agama bukan sekedar Sosialisme Marxis. Bagi para teolog, istilah pembebasan adalah istilah yang kaya dan kompleks. Pembebasan dari yang memunkinkan manusia masuk dalam persekutuan dengan Tuhan dan semua manusia (Gutierres), atau pembebasan spiritual menuju pemenuhan kerajaan Allah (Munoz), atau pembebasan mental, yakni penerjemahan dan penginkarnasian iman dan cinta dalam sejarah yang konkrit yang ditandai oleh salib kristus sebagai salib cinta yang mengalahkan kuasa dosa yang terjelma dalam situasi kekerasan (Galilea). Penelitian ini mempunyai tujuan pokok: Untuk mengetahui gerakan dan konsep teologi profetik dan sosialisme Marx tentang pembebasan, sehingga bisa diketahui persamaan dan perbedaanya. Disamping itu, penelitian ini juga Untuk mengetahui dan memahami praksis pembebasan agama-agama melalui teologi profetik. Dalam penelitian ini, dipergunakan metode penelitian kepustakaan dan content analysis sebagai analisis datanya dengan pendekatan studi histories, diskriptif, komparatif, fenomenologis dan hermeneutic. Teologi pembebasan ini tidak mengandung ajaran Marxis/Leninis, tapi memang dalam salah satu tahapannya dapat (tapi tidak selalu) mempergunakan analisis Marxis. Oleh karena itu, menyederhanakan anggapan bahwa teologi pembebasan mengandung ajaran Marxis/Leninis adalah sikap mempermalukan diri sendiri di hadapan masyarakat global dan terpelajar. Kami hendak menekankan bahwa teologi pembebasan adalah teologi praksis non-violence, tanpa kekerasan. Kekerasan dibalas dengan kekerasan memang dapat menjadi pilihan, tetapi akan selalu melahirkan spiral kekerasan, dan tidak jarang bumerang kekerasan bagi yang melempar kekerasan yang pertama kali. Dari hasil berteologi pembebasan di atas, yakni penemuan kembali roh tradisi yang dapat mentransformasikan sikap pasif dan mengolah menjadi sikap percaya dan tekun berjuang untuk kemakmuran, kebenaran dan keadilan anak-anak bangsa dengan elegan di panggung dunia, maka kita akan melihat kemenangan menanti di ufuk depan. Globalisasi ekonomi dan politik idiologi, kita hadapi dengan wajah-wajah manusiawi yang kita ketemukan pada globalisasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya.
Kata Kunci : Teologi Profetik, Ideologi Revolusioner, Gerakan Teologi Pembebasan, Sosialisme-Marxisme, kaum tertindas
A. Latar Belakang Masalah
Bergesernya paradigma (shifting paradigm)[1] teologia religoonom[2] menyebabkan adanya mata rantai yang terputus peran dan fungsi teologi agama-agama yang dibawa para nabinya. Peran dan fungsi teologia religoonom agama-agama adalah membawa para pemeluknya pada kedamaian, kesejahteraan, keadilan dan egalitarianisme. Bergesernya paradigma ini membuat teologi religoonom agama-agama menjadi kehilangan élan vital ajarannya yang menyebabkan mandul dalam berkreasi dan menciptakan dialog-dialog dengan situasi social, ekonomi, politik maupun budaya masyarakat pemeluknya.
Teologi sebagai pintu masuk dalam melakukan pembebasan umat justru telah kering dari pemaknaan pembebasannya, sehingga teologi dibatasi pada pemaknaan ilmu atau wacana tentang tuhan secara klasik dan tradisional saja. Teologi dipahami sebagai pembicaraan tentang perbuatan-perbuatan Tuhan, relevansinya dengan makhluk, sifat-sifat dan Zat Tuhan yang dibahas secara onatologis-metafisis, sehingga teologi tidak membumi mampu menjawab tantangan dan problema umat manusia. Peran élan vital teologia religoonom pada akhirnya diambil oleh ideologi-ideologi kiri yang dalam hal ini adalah sosialisme.[3] Akhirnya para pemeluk agama melirik pada ideologi sosialisme sebagai ideologi perjuangannya.[4]
Sosialisme-Marxis merupakan doktrin sosialisme yang paling dominan dan dijadikan pijakan fundamental dalam menganalisa suatu perubahan dunia menuju masyarakat egalitarianisme, hilangnya segala eksploitasi dan penindasan atas manusia. Perjuangan untuk mencapai tatanan masyarakat yang adil dan tanpa kelas oleh sosialisme hampir sepenuhnya dijalankan Marxisme. Kesadaran emansipatoris ini merupakan suatu kekuatan Sosialisme dan Marxisme dalam melihat realitas masyarakat. Kesadaran sosial masyarakat merupakan pengaruh sosialisme yang sangat urgen dalam gerakan pembebasan. Gerakan ini memberikan pengaruh yang besar terhadap lahirnya “Teologi Pembebasan” di Amerika Latin yang dipelopori oleh Guiterez,[5] seorang pendeta dalam dunia Kristen yang selalu gelisah melihat realitas umatnya yang tertindas oleh kekuasan negara maupun kapitalisme dan gerakan pembebasan dalam semangat Islam yang di pelopori Hasan Hanafi dengan jargon “Kiri Islamnya” dan Asghar Ali Engineer dengan paradigma pemikirannya yang progresif dengan semangat teologi pembebasannya..[6]
Praksis pembebasan dalam agama-agama merupakan gerakan misi baru Perjuangan kaum beriman melalui teologia religionom dalam membebaskan masyarakat tertindas dan Egalitarianisme. Dalam sejarah, gerakan profetis (kenabian) merupakan gerakan revolusi dalam memperjuangkan tatanan sosial kemasyarakatan yang satu tanpa adanya pertentangan klas, adil dan tidak eksplotatif, sebagaimana pada masyarakat kapitalis yang oligarki dan oligopoli.
Ini dapat kita saksikan dalam sejarah bahwa para nabi dan rosul merupakan mujaddid revolusioner sejati. Nabi Musa mampu merefleksikan revolusi pembebasan kaun Bani Israil yang tertindas melawan otoritasme dan bentuk kediktatoran Fir’aun. Para Nabi dan Rasul memperjuangkan bentuk sosialisme religius dengan penekanan pada moral, spiritual. Disamping itu, di sini perjuangan keadilan yang humanis tanpa kekerasan atau lebih dikenal dengan konsep “al-adl wa al-ihsan” (keadilan dan kebajikan) sebagaimana dilaksanakan oleh para Nabi.
Fenomena di atas, tidaklah mungkin akan terselesaikan jika kaum beragama (beriman) hanya memandang teologi yang semula dipahami secara klasik sebagai ilmu yang membicarakan tentang Tuhan kaitannya dengan persoalan-persoalan eskatologis dan melangit. Teologi harus dirubah peran dan fungsinya sesuai dengan dinamika social menjadi teologi kontekstual, sebuah teologi yang dipahami dan didialogkan secara dialektis sesuai dengan konteks problematika umatnya dalam berhadapan dengan dinamika social, ekonomi, budaya maupun politik. Teologi kontekstual merupakan perkembangan teologi yang lebih bersifat praksis, dimana kaum beriman melakukan sebuah tindakan yang tidak semata bersifat ukhrowi, tetapi juga bagaimana kaum beriman dengan teologinya membangun kedamaian, keadilan, egalitarianisme didunia ini. Dengan kata lain, kaum beriman diharapkan dengan teologinya membangun kerajaan Tuhan dibumi ini, agar bumi ini penuh dengan kehidupan surga.
B. Teologi Profetik dan Ideologi Revolusi
Saat ini bermunculan keinginan para agamawan untuk memecahkan problematika social memakai pendekatan teologi yang dikenal dengan istilah teologi kontekstual, salah satunya yang terkenal adalah teologi pembebasan. Teologi Pembebasan, baik dari penggunaan istilah maupun sejarah, metode dan praksisnya masih mengundang perdebatan. Penulis tidak akan menguraikan lebih jauh mengenai perdebatan penggunaan istilah ini, karena pada intinya, segala macam sebutan atau penamaan tersebut akan kembali pada usaha untuk membebaskan umat manusia dari ketertindasan, baik itu kemiskinan, kebodohan maupun diskriminasi.
Kata, “θεος, theos, yang berarti “Allah, Tuhan“, dan λογια, logia yang berarti “kata-kata,” “ucapan,” atau “wacana“. Teologi berarti wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan. Dengan demikian, teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama. Teologi meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Karena itu, seorang teolog berupaya menggunakan analisis dan argumen-argumen rasional untuk mendiskusikan, menafsirkan dan mengajar dalam salah satu bidang dari topik-topik agama.
Dalam arti yang praktis dan simple (bukan filosofis, bukan naturalis, bukan mitologis, dan bukan pula metafisis), “teologi” pada dasarnya adalah usaha sadar untuk mendengarkan bisikan wahyu atau sabda yang dinyatakan oleh Tuhan dalam sejarah, menyerap pengetahuan tentangnya dengan menggunakan metode-metode keilmuan dan untuk merefleksi tuntutan-tuntutan langkahnya pada tindakan.[7] Dalam rumusan Segundo (1974), pernyataan wahyu atau sabda dalam sejarah dimengerti sebagai dampak dari sabda dan dogma yang diimani, dalam praksis sejarah.[8]
Asghar Ali Engineer, seorang pemikir radikal yang mengembangkan pemikiran-pemikiran Islam dengan karakter yang kuat, berpendapat bahwa, teologi adalah kumpulan ajaran-ajaran yang disusun secara koheren untuk memahami hubungan-hubungan antara Tuhan, manusia dan alam semesta. Sementara itu, ia juga sejalan dengan pandangan Hassan Hanafi, seorang pemikir radikal lainnya yang mengungkapkan bahwa teologi mestinya dipahami sebagai suatu refleksi atas iman dalam situasi majemuk, dimana seharusnya tidak ada kesenjangan antara suatu yang sifatnya transenden dengan persoalan sosial kemasyarakatan.[9] Menurutnya ada dua alasan yang menerangkan tujuan kehadiran agama. Yang pertama adalah, adanya pengakuan terhadap Tuhan yang tunggal dan kedua adalah, membebaskan manusia dari keterikatan paganisme budaya dan dari struktur masyarakat yang tidak adil. [10]
Sebelum berbicara teologi Profetik secara mendetail, kita perlu memahami apa yang dimaksud Kuntowijoyo sebagai penggagas Ilmu Sosial Profetik dalam karya-karyanya mengenai ilmu Sosial Profetik. Gagasan ini oleh Kuntowijoyo pertama-tama dimaksudkan sebagai ‘alternatif’ terhadap gagasan yang dilontarkan oleh Moeslim Abdurrahman, mengenai pentingnya merumuskan teologi baru yang disebutnya sebagai Teologi Transformatif. Teologi Transformatif muncul berangkat dari analisis Moeslim Abdurrahman dimulai dari bidikannya terhadap realitas ketimpangan sosial yang dihadapi umat Islam yang diakibatkan oleh proses modernisasi. Perubahan ini dilakukan karena istilah teologi dalam masyarakat kita dipahami sebagai istilah yang masih ontologis, yaitu sebagai ilmu yang membahas persoalan ketuhanan (tawhid) yang tidak boleh diperbincangkan secara mendalam.
Kontowijoyo menghendaki bahwa kita harus secara sadar memilih arah, sebab dan subyek dari ilmu sosial yang kita bangun. Ilmu sosial tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial, melainkan juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi dilakukan, untuk apa, dan oleh siapa. Sebagai contoh, Kuntowijoyo sendiri menetapkan bahwa bagi masyarakat Islam, transformasi sosial dilaksanakan berdasarkan cita-cita etik dan Profetik yang diderivasi dari misi historis Islam sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 110, yang berbunyi :
öNçGZä. uöyz >p¨Bé& ôMy_Ì÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù’s? Å$rã÷èyJø9$$Î/ cöqyg÷Ys?ur Ç`tã Ìx6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur ÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #Zöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB cqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$#
Artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Beranjak dari sifat keilmuan dan transformasinya yang sarat nilai profetis (transenden) seperti disebutkan di atas, penulis ingin menghadapkan gagasan Ilmu Sosial Profetik ini dengan bentuk-bentuk pengetahuan lain yang hampir serupa. Penghadapan ini penting untuk menindaklanjuti pendekatan terhadap proyek Ilmu Sosial Profetik, terutama yang menyangkut pertanyaan: bagaimanakah kita menerjemahkan Ilmu Sosial Profetik tersebut secara lebih praktis? Karena sikap eksklusif baginya merupakan sikap yang a-historis dan tidak realistis. Semua peradaban, bahkan agama menurutnya mengalami proses meminjam dan memberi satu sama lain dalam interaksinya. Sehingga Ilmu Sosial Profetik sendiri dalam elaborasi praktisnya tidak perlu ditutup dari kemungkinan meminjam bentuk pengetahuan atau praxis lain yang telah ada. [11]
Berangkat dari pemikiran siapakah pemikiran Kuntowijoyo dalam Ilmu Sosial Profetik ini? Yang ingin diambil oleh beliau dari kedua pemikir itu adalah sisi “realitas keNabian” (prophetic reality) yang telah menjadi bagian penting dalam proses kesejarahan umat manusia. Artinya, realitas “perjuangan” Nabi lebih membumi dan masuk pada kancah zaman dan pergolakan sejarah manusia. [12]
Ilmu sosial, dengan paradigma profetis, harus melakukan pembebasan seperti apa yang pernah dilakukan oleh para Nabi. Jika kita perhatikan, sejarah Nabi-Nabi itu memiliki kadar kedalamaan ilmiah yang tinggi, yaitu bagaimana cara kerja, pikir dan sikap mereka dalam memahami realitas. Para Nabi melakukan “pembebasan sosial” (liberating) di mana ketidakadilan dan penindasan begitu menghantui kehidupan masyarakat. Mereka tetap berangkat dari substansi ajaran agama (transedensi) yang itu harus “diaktivasi” dalam realitas kesejarahan manusia. Ada tiga unsur yang menjadi bagian dari kerangka kerja ilmiah dalam memahami realitas, yaitu liberasi, emansipasi, dan transendensi. Tapi, gagasan mengenai sosiologi profetik yang akan dikaji dalam tulisan ini baru beranjak dari upaya mengembangkan ilmu sosiologi yang multi-disiplin, tidak menafikan adanya kepentingan “nilai” (prophetic as a value), dan berkewajiban untuk melakukan pembebasan dan perubahan sosial.
Berbeda dengan Kuntowijoyo, penulis lebih setuju menggunakan istilah “teologi profetik” karena diilhami gerakan-gerakan keNabian yang selalu hadir ditengah-tengah umat sebagai seorang mujaddid revolusioner sejati. Penggunaan kata teologi ini didasarkan upaya revolusioner para Nabi atas panggilan iman kepada Tuhan untuk mengajak masyarakat bermoral dan pencerahan, sehingga kata teologi sebagaimana dijelaskan di atas makna dan pengertiannya, menurut penulis terasa sangat relevan daripada kata Sosial. Penggunaan kata teologi pada gerakan profetik menjadi Teologi Profetik menurut penulis relevan sekali. Ini karena kata teologi menjadi penekanan ontologis, epistemologis maupun axiologis terhadap gerakan profetik baik yang dilakukan para Nabi maupun para penerusnya.
Pendasaran Ontologis disini dimaksudkan bahwa gerakan profetik yang dilandasi iman merupakan hakikat perjuangan para Nabi sebagaimana dijelaskan al-Qur’an. Sementara pendasaran epistemologisnya bahwa gerakan profetik merupakan panggilan iman yang bersumberkan pada perintah Allah yang tidak terbatas pada Nabi-Nabi yang diturunkan Allah semata, tetapi juga harus diteruskan sampai saat ini. Sedangkan penekanan axiologis didasarkan atas bahwa misi gerakan profetik adalah mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan dari segala bentuk penindasan, diskrimasi dan memperjuangkan keadilan menuju egalitarianisme sebagaimana yang dilakukan oleh para Nabi. Gerakan Profetik merupakan gerakan moral menuju pencerahan umat manusia, sebagaimana dapat kita saksikan dalam sejarah peradaban manusia. Allah akan mengutus para Nabinya untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.
Teologi Profetik merupakan panggilan iman seseorang yang diangkat Nabi oleh Allah untuk melakukan perubahan-perubahan, baik struktur kebudayaan masyarakat, moralitas kehidupan masyarakat maupun tata cara berpikir yang sangat realistis. Relevan sekali jika para Nabi hadir untuk melakukan hal tersebut. Para Nabi hadir ditengah-tengah kehidupan masyarakat didasarkan atas iman yang kuat kepada Allah, sehingga rasa keimanan dan atas perintah Allah tersebut, maka gerakan profetik merupakan misi teologis yang dilakukan para Nabi. Misi teologis ini merupakan misi suci Ilahi dalam menghilangkan praktek-praktek penindasan. Karena itu, penggunaan istilah teologi Profetik sangat relevan dalam misi suci dalam sosial kemasyarakatan.
Gagasan teologi profetik diilhami oleh misi keNabian yang disinggung dalam al-Qur’an surat al-A’raf : 157 yang berbunyi :
tûïÏ%©!$# cqãèÎ7Ft tAqß§9$# ¢ÓÉ<¨Z9$# ¥_ÍhGW{$# Ï%©!$# ¼çmtRrßÅgs $¹/qçGõ3tB öNèdyYÏã Îû Ïp1uöqG9$# È@ÅgUM}$#ur NèdããBù’t Å$rã÷èyJø9$$Î/ öNßg8pk÷]tur Ç`tã Ìx6YßJø9$# @Ïtäur ÞOßgs9 ÏM»t6Íh©Ü9$# ãPÌhptäur ÞOÎgøn=tæ y]Í´¯»t6yø9$# ßìÒtur öNßg÷Ztã öNèduñÀÎ) @»n=øñF{$#ur ÓÉL©9$# ôMtR%x. óOÎgøn=tæ 4 úïÏ%©!$$sù (#qãZtB#uä ¾ÏmÎ/ çnrâ¨tãur çnrã|ÁtRur (#qãèt7¨?$#ur uqZ9$# üÏ%©!$# tAÌRé& ÿ¼çmyètB y7Í´¯»s9′ré& ãNèd cqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÎÐÈ
Artinya : (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.
Berangkat dari teks ayat di atas, maka teologi profetik merupakan sebuah panggilan iman dalam membebaskan masyarakat dan problema sosial. Ayat di atas jelas bahwa sseorang Nabi mempunyai misi suci yaitu, Amar Ma’aruf, Nahi Mungkar (konseling); mengatakan yang Halal dan Haram (Muadib); Pembebasan dan pencerahan (Revolusioner).
Misi suci para Nabi, pertama: sebagai seorang konseling adalah mengajak manusia untuk berbuat baik dan mencegah kemungkaran. Misi suci ini merupakan gerakan profetik yang membawa manusia pada kedamaian dan ketentraman umat manusia dalam kehidupan masyarakat. Kedua, sebagai seorang muadib adalah mengajarkan kepada umat manusia untuk melakukan pekerjaan yang halal dan meninggalkan yang haram. Misi suci ini merupakan tugas para Nabi untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ketiga, sebagai seorang revolusioner adalah berjuang membebaskan masyarakat dari segala bentuk penindasan dan diskriminasi yang dilakukan oleh para penguasa. Misi suci merupakan perjuangan para Nabi yang terpenting karena hampir semua Nabi berjuang melakukan pembebasan masyarakat dari ketertindasan menuju pencerahan. Nabi Ibrahim melakukan perjuangan revolusioner dalam membebaskan masyarakat dari bentuk paganisme raja Namrud, Nabi Musa melakukan perjuangan Revolusi dalam membebaskan bani Israil dari hegemoni tiran yang dictator fir’aun, Nabi Isa melakukan gerakan Revolusi spiritual atas hegemoni materialisme masyarakat Romawi dan rosulullah Muhammad melakukan gerakan revolusi moral atas kejahilan masyarakat Quraisy.
Semua gerakan profetik para Nabi ini didasaarkan atas panggilan iman yang tinggi, sehingga gerakan profetik para Nabi mendapat pendasaran teologi yang kuat. Keberhasilan perjuangan para Nabi karena adanya penekanan teologis dalam memperjuangkan harkat dan martabat manusia. Untuk itu, Teologi Profetik merupakan sebuah keniscayaan yang harus diperjuangan oleh para penerus Nabi di era sekarang dengan memperjuangkan hak-hak masyarakat yang terampas oleh kekuasaan; memperjuangkan egalitarianisme dan keadilan serta berjuang melakukan pembebasan melalui pintu teologi sebagai gerakan Profetik. Ini adalah pendasaran ontologis, epistemologis dan axiologis dari teologi profetik.
C. Ideologi dan Praxis Gerakan Revolusioner
Berbicara tentang ideologi berarti memasuki pembahasan yang tidak akan pernah tuntas, karena begitu banyaknya sisi yang biasa dibahas. Ideologi yang semula sebagai science of ideas dengan konotasi positif dan secara epistemologis merupakan kajian obyektif terhadap ide yang meliputi asal-usul ide, mengapa ide muncul, bagaimana perkembangan dan strategi apa yang dapat dilakukan dalam menyebarkan ide tersebut. Destutt de Tracy melihat pula bahwa ideologi merupakan dasar bagi pendidikan dan ketertiban moral yang memiliki arti positif, dimana ilmu ini dapat mengatasi prasangka-prasangka agama dan metafisika sebagai dasar bagi penentuan aturan moral.
Namun pada perkembangan berikut ideologi berubah menjadi seperangkat nilai yang dianggap benar oleh pengikutnya. Sesungguhnya, Napoleon lah orang pertama kali yang melabelkan konotasi negatif bagi term ini melalui sebutan kaum ideologis (intelektual yang doktriner dan tidak realistis), bagi teman-temannya yang tidak menyetujui kepemimpinannya. Sementara itu, Revolusi merupakan istilah yang digunakan untuk melakukan peralihan kekuasaan. Tentu sosok yang tidak dapat diabaikan ketika berbicara mengenai Revolusi adalah Karl Marx. Marx memang menunjukkan esensi dalam revolusi terletak pada perubahan pola produksi umat manusia, yang pada gilirannya membawa perubahan pada pola tindak, pola pikir dan tatanan masyarakat secara keseluruhan. Kata kunci untuk melakukan revolusi adalah peralihan kekuasaan, sebab bagi Marx, hanya setelah kekuasaan ada di tangan kelas yang berbeda, pola produksi masyarakat akan dapat diubah sesuai dengan pola produksi yang memberikan keuntungan bagi kelas yang berkuasa tersebut.
Ideologi dalam revolusi ini bisa dikatakan sebagai suatu sistem nilai yang menyimpang dari sistem nilai yang dominan dan mulai memiliki makna emosional yang kuat bagi seseorang atau sekelompok orang. Peran utama ideologi dalam suatu revolusi adalah mempersatukan berbagai penderitaan dan kepentingan di bawah seperangkat simbol oposisi yang sederhana dan memikat. Untuk tujuan revolusi, suatu ideologi yang mencirikan tarik menarik antara kekuatan baik dan jahat, melihat medan politik sebagai medan pertarungan antara kebajikan dan kemunkaran, sangat berlaku bagai landasan ideologi revolusioner.
Dalam perkembangannya, Marxisme kemudian memberikan kesadaran pada berbagai bangsa didunia akan sebuah situasi ketertindasan yang tidak adil, dan membangkitkan semangat untuk menuntut suatu perubahan secara revolusioner. Dasar pemikiran ini kemudian diadaptasi sesuai dengan konteks dan realitas yang dihadapi. Masing-masing bangsa memiliki motivasi dan alasan pembebasan yang berbeda juga kondisi yang beragam. Analisis masyarakat yang dilakukan kemudian berkembang dari satu akar pemikiran Marx menjadi cabang-cabang yang tangguh sesuai jenis kapitalisme yang ada, karena kapitalisme sendiri dapat berubah-ubah dengan fleksibel. Pemikiran Marxis pada akhirnya memberikan pengaruh kuat pada gerakan-gerakan revolusioner Rusia yang dipelopori Lenin, Revolusi China dengan Mao Tse Tung sebagai pelopornya, juga mengilhami revolusi Kuba dengan Che Guevara sebagai penggeraknya. Disamping itu, Revolusi Indonesia tidak terlepas adanya gerakan Komunis yang gagal sehingga melahirkan revolusi bersama
D. Agama dan Praksis Pembebasan
Agama adalah candu bagi masyarakat. Pandangan yang diajukan oleh Marx ini jelas menjadi sebuah kontroversi bahkan respon yang keras bagi mereka yang memegang keras ajaran agamanya (dalam pengertian ortodoks). Menurutnya agama seharusnya dapat menjadi senjata yang ampuh bagi mereka yang dieksploitasi, bukan hadir dalam bentuk tradisional yang tidak membawa perubahan tapi justru melanggengkan kemapanan. Agama akan menjadi kekuatan yang mengagumkan jika ditampilkan dalam bentuk yang membebaskan.[13]
Bagi para teolog, istilah pembebasan adalah istilah yang kaya dan kompleks. Agak dengan susah payah kita mencari pengertian yang melulu pembebasan politik dalam literatur para teolog pembebasan. Bertentangan dengan tuduhan para kritikus teologi pembebasan, hampir semua teolog pembebasan memberikan arti yang utuh dan integral terhadap istilah “pembebasan”, yaitu seperti yang diberikan oleh Gutierres (1973), Ronaldo Munos (1974), dan Segundo Galilea (1975). Ia berpendapat bahwa kebebasan merupakan proses menuju kemerdekaan dalam bentuk segala sistem yang menindas. Pembebasan yang mengarah pada realisasi pribadi untuk menentukan dirinya sendiri tujuan hidup politis, ekonomis dan kulturalnya. Yang hilang disini ialah penyatuan dengan Tuhan.[14]
Pembebasan dari belenggu penindasan ekonomi, social dan politik (Gutierres), atau alienasi kultural (Galilea), atau kemiskinan dan ketidakadilan (Munoz). Pembebasan dari tindakan represif atau kekerasan yang melembaga dan menghambat kemajuan kualitas manusia serta menghalangi terciptanya manusia baru, juga mengangkat hubungan solidaritas antar manusia (Gutierres), atau lingkaran setan kekerasan yang menantang orang untuk berperan serta dalam kematian kristus (Galilea), atau praktik-praktik yang menentang usaha pemanusiaan manusia sebagai tindakan Tuhan (Munoz). Inilah yang menjadi inti dari teologi pembebasan
Praxis pembebasan dalam Islam pada masa awal munculnya merupakan refleksi kesadaran historis yang dimulai oleh Nabi Muhammad. Perjuangan Nabi Muhammad inilah yang menjadi dasar penjelasan Asghar Ali Engineer mengenai visi pembebasan dalam Islam. Segala tindakan yang dilakukan Nabi adalah merupakan praxis pembebasan dengan metode yang tertuang dengan jelas didalam Al-Qur’an. Ini menyiratkan bahwa visi pembebasan telah melekat dan bahkan menyatu menjadi dasar tindakan dalam Islam. Untuk itu bagian ini akan menyoroti perkembangan akan visi dan praxis pembebasan pada dunia Islam di masa sekarang ini. Maka pembahasan yang dilakukan adalah mengenai dua fenomena perjuangan yang terjadi di Iran dan Lybia.
Dalam pandangan Asghar Ali Engineer mengenai pembebasan, Asghar Ali Engineer merujuk pada keadilan sosial. Menurutnya keadilan sosial berakar pada tauhid dan merupakan konsep-konsep pokok dari ajaran Al Qur’an. Bagi Asghar Ali Engineer kehadiran Islam adalah untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan (kedzaliman)[15]. Keadilan tidak akan tercipta tanpa membebaskan golongan marjinal yang tertindas dan lemah dari penderitaan dan memberikan mereka kesempatan yang sama dengan golongan lain untuk memimpin[16]. Pembebasan merupakan panggilan universal dalam semua agama. Pembebasan adalah gerakan profetik agama-agama yang dilandasi iman demi tegaknya moralitas sosial dan moralitas kebudayaan manusia dalam kehidupan, sehingga agama mengajarkan pembebasan atau semangaat revolusioner sebagai ajaran dasar dalam membangun peradaban manusia yang tercerahkan. Karena itu, semua agama menempatkan pembebasan sebagai konsep perjuangan orang beriman secara niscaya, sebagaimana kita lihat perjuangan para nabi, rosul dan orang besar lainnya yang perjuangannya berbanding lurus dengan penegakan moral masyarakat melalui keadilan dan egalitarianisme.
Teologi Pembebasan pertama kali hadir di Amerika latin yang mengilhami gerakan pembebasan melalui pintu teologi di Asia dan Afrika. Gerakan pembebasan disini merupakan refleksi orang beriman sebagai implikasin dari teologi profetik, baik di Amerika Latin, Asia maupun Afrika yang dipelopori oleh para agamawan. Pada kasus Amerika Latin ini kemudian memicu sejumlah rohaniwan untuk bangkit mengangkat senjata dan bergerilya membela orang-orang yang tertindas. Beberapa analisis kemudian dilakukan mengenai penyebab munculnya teologi pembebasan, karena sebagian orang kemudian skeptis terhadap tujuan mulia yang dikedepankan. Sedangkan analisis yang lebih halus datang dari para pakar sosiologi yang mengemukakan bahwa bukan gereja menggeser posisinya, melainkan rakyat yang tertindas telah berhasil mengambil alih lembaga gereja kemudian mengarahkannya untuk membela kepentingan-kepentingan mereka.
Namun teologi pembebasan juga mengalami pertentangan dari dalam lingkungan iman mereka sendiri. Teologi ini kemudian dihujat karena menggunakan analisis marxis yang mencanangkan penentangan kelas dan cenderung tidak kooperatif. Teologi ini juga dipandang tidak sejalan dengan ajaran Kristen karena mendorong penggunaan kekerasan dan menunda cinta serta mengingkari kemiskinan injil yang lalu digantikan dengan konsep kemiskinan ploretariat. Dan teologi pembebasan dianggap buta atau menutup mata terhadap kemungkinan potensi totalitarian dalam masyarakat sosialis yang diidam-idamkan serta terlalu agresif mengkambing hitamkan kapitalisme.
Pisau analisa sosial yang dilakukan para teolog Pembebasan tidak terlepas dari kerangka berpikir Karl Marx. Analisa sosial untuk sebagian besar merujuk pada pemikiran Marx dan Engels. Gerakan teologi pembebasan yang terjadi di belahan bumi ini dilakukan para agamawan dengan analisa sosial Marxisme. Ini karena, hingga saat ini agama masih sering dianggap sebagai kubu yang reaksioner, konservatif, penentang pencerahan akal dan perubahan politik[17]. Mengapa agama, dalam pemahaman dan pengamalan tradisional, begitu anti dengan pembebasan dan begitu mengikat? Hal ini karena sebenarnya lebih berkaitan dengan persoalan mempertahankan legitimasi. Inilah kemudian mengharuskan mereka mendekatkan diri pada kekuasaan-kekuasaan yang aktual. Sepanjang kekuasaan itu masih dapat bertahan maka pelaku agama akan memanfaatkannya dan mendukungnya agar dapat bertahan. Namun yang dilupakan adalah, ini berarti mereka meninggalkan sebagian umat mereka, yaitu golongan yang bukan kekuasaan atau golongan yang tertindas. Dalam kondisi seperti ini kemudian muncul pemikir-pemikir (diawali oleh para romo di Amerika Selatan) yang sadar akan situasi dan berusaha mengembalikan fungsi agama dan teologi dalam isi dan praktek untuk masyarakat. Kritik Marx atas agama dipahami, bahwa sesungguhnya agama adalah tempat atau sarana yang sangat potensial untuk mengembangkan konsep-konsep gerakan untuk pembebasan. Yaitu dengan cara mengembalikannya pada golongan rakyat tertindas. Mereka kemudian meminjam terminologi Marx untuk mengeluarkan manusia dari alienasi dalam sejarah kehidupan[18]. Agama, lebih jauh lagi dilihat sebagai sarana untuk menganalisis secara kritis realitas sosial yang terjadi. Dengan kesadaran inilah kemudian muncul apa yang disebut sebagai “teologi pembebasan”.
Teologi pembebasan dipahami sebagai refleksi kritis atas praksis, atas pengalaman iman yang konkrit. Refleksi kritis atas iman dan tidak berhenti hanya pada diri sendiri namun berlanjut pada usaha untuk transformasi dan membebaskan manusia seutuhnya. Dalam pengertian ini kemudian pembebasan dilihat sebagai bentuk penyembahan pada Tuhan yang mendengarkan jeritan umat-Nya. Maka teologi pembebasan bukan semata mengenai isi dan obyek kajiannya tapi juga cara berteologi dari praksis iman atau yang dialami dari kurun waktu tertentu. Dan Teologi yang merupakan kegiatan penalaran tentang ajaran iman, memperbaharui diri melalui tiga saluran yaitu, interpretasi kembali ajaran iman atau disebut juga “ kembali kepada sumber”, melakukan kontak dengan realitas yang dihadapi atau yang terjadi dan yang ketiga adalah rangsangan terhadap teolog-teolog[19]. Singkatnya teologi pembebasan adalah sebuah praksis pembebasan yang mengambil inspirasi dan pendasaran pada refleksi dengan pemahaman yang revolusioner atas iman, yaitu golongan tertindas sebagai locus theologicus.
Teologi pembebasan yang sering dibicarakan dan dipandang sebagai pelopor gerakan pembebasan yang berlandaskan teologi mungkin adalah teologi pembebasan di Amerika Latin. Seperti telah kita ketahui bahwa teologi ini dipelopori oleh para romo dan mengambil akarnya dari agama Katolik. Hal tersebut sebenarnya juga merupakan salah satu keprihatinan agama-agama. Bahkan Gandhi dan Buddhadasa dari Thailand sudah berteologi dan menulis tentang tema-tema pembebasan jauh sebelum berkembang teologi pembebasan dikalangan Kristiani[20]. Pada bagian lebih lanjut, mengenai sejarah teologi pembebasan, saya akan mencoba untuk menampilkan fenomena-fenomena serupa yang terjadi dalam agama lain. Sebagai pengantar, teologi pembebasan juga terjadi dibagian lain dunia dan dalam keimanan-keimanan lain. Teologi pembebasan yang berkeinginan untuk membebaskan manusia dari kemiskinan, kebodohan dan ketertindasan tumbuh subur dinegara-negara miskin atau berkembang dan tertindas. Ia tidak hanya terjadi di Amerika Latin saja, singkatnya teologi pembebasan terjadi pada negara-negara ketiga. Jika kita bagi berdasarkan wilayah maka teologi pembebasan dapat kita bagi dalam tiga jenis yaitu, teologi pembebasan Amerika Latin, teologi pembebasan Asia dan teologi pembebasan Afrika. Teologi pembebasan Amerika Latin jelas lahir dengan mengambil akar dari agama Katolik. Sedangkan di Afrika adalah Islam dan Kristen. Masing-masing teologi pembebasan ini juga memiliki karakter-karakter yang berbeda.
Asghar Ali Engineer menganggap bahwa konsep-konsep kunci dalam Islam tidak dibatasi pemaknaannya hanya dalam makna keagamaan, kemudian ia melakukan pemaknaan ulang terhadap konsep-konsep kunci dalam Islam. Hasilnya adalah, ia mendapatkan lima konsep yang menekankan pentingnya peran iman dalam perjuangan pembebasan[21]. Kelima konsep itu antara lain, yang pertama adalah konsep tauhid. Dan kesatuan ini haruslah sempurna, artinya ia tidak akan ada tanpa terwujudnya masyarakat tanpa kelas, karena masyarakat kelas mencerminkan dominasi yang kuat terhadap yang lemah dan ini jauh dari keadilan masyarakat. Yang kedua adalah konsep jihad. Konsep yang ketiga adalah sabar. Sabar bukan berarti menerima keadaan sebagai status quo dan menunggunya berubah, namun yang dimaksud adalah sabar dalam melakukan perjuangan perubahan sosial, sabar dilihat sebagai senjata psikologis yang kuat dalam menghadapi kesulitan. Manusia beriman menurut Asghar Ali Engineer, sejatinya dapat dipegang, imannya kepada Allah akan mengantarkannya pada perjuangan yang keras untuk menciptakan keadilan. Orang yang beriman pendapatnya tidaklah kosong dan berakar pada kedalaman pribadinya. Konsep yang terakhir adalah kafir. Kafir disini tidak hanya dimaknai sebagai ketidak percayaan religius saja tapi juga sebagai sikap pertentangan terhadap masyarakat yang adil dan egalitarian yang bebas dari segala penindasan.
Asghar Ali Engineer kemudian berpendapat bahwa jika agama masih ingin mendapat tempat dihati kelompok yang tertindas dan lemah, dimana sebenarnya sebagian besar pemeluk agama berasal dari golongan ini, maka perlu dikembangkan teologi pembebasan[22]. Penjelasan Asghar Ali Engineer lebih dalam mengenai teologi pembebasan akan sangat banyak diwarnai dengan penjelasan yang mungkin dapat dikatakan apologetik dan banyak merujuk pada masa awal berdirinya Islam serta perjuangan nabi Muhammad SAW. Ia memang sangat terinspirasi oleh sejarah tersebut dalam pemahamannya mengenai teologi pembebasan dan keadilan sosial masyarakat.
Jika kita lihat dari uraian diatas maka dapat kita simpulkan bahwa teologi pembebasan di Amerika Latin berkutat dengan benturan masalah sosial-ekonomi dan agama. Masalah yang dihadapi di Asia ternyata memiliki variabel yang lebih banyak dari itu.Teologi pembebasan di Asia melakukan dialog dalam tiga rangkap yaitu, kaum miskin (sosial-ekonomi), agama-agama besar dan yang terakhir adalah kebudayaan-kebudayaan Asia. Untuk itu saya akan mencoba membagi teologi pembebasan di Asia, mula-mula dari sudut pandang agama-agama, dan konteks tempat akan dibahas kemudian dalam bahasan sejarah teologi pembebasan. [23]
.
E. Gerakan Pembebasan Sebagai Teologi Profetik
Gerakan-gerakan radikalisasi agama ini, di Amerika Latin, muncul pertama kali justru dari kelompok-kelompok sosial yang berada pada lintas silang keagamaan, mereka yang berada dipinggir dalam hubungan dengan kelembagaan gereja. Gerakan ini muncul dari pinggir ketengah[24]. Gerakan-gerakan ini menafsirkan kembali ajaran-ajaran kitab suci sesuai dengan praktek-praktek kehidupan nyata dan menggunakan Marxisme. Ini adalah alasan mengapa gerakan-gerakan tersebut dapat dengan mudah berbaur bersama aliran-aliran sosial, politik dan budaya yang ada disekitarnya. Mereka terjun langsung ketengah masyarakat yang sedang berada dalam krisis. Salah satu kelompok yang disebut adalah para pakar awam. Menarik untuk dibahas sedikit, bahwa mereka ini memiliki fungsi yang sangat membantu bagi keuskupan atau para teolog pembebasan. Mereka berasal dari bidang yang beragam, pakar ekonomi, sosial, tata kota, pengacara, dll. Teologi pembebasan mengajukan gugatan moral dan sosial yang amat keras terhadap ketergantungan kapitalisme sebagai suatu sistem yang tidak adil dan tidak beradab. Kebebasan yang merupakan pilihan khusus bagi kaum miskin harus ditempuh dengan mengembangkan basis kelompok-kelompok masyarakat agama sebagai bentuk baru gereja dan alternatif cara hidup individualis yang dipaksakan oleh sistem kapitalis. Untuk itu mereka melakukan pembacaan baru terhadap kitab suci, dengan penekanan pada pembebasan rakyat yang diperbudak.
Dalam teologi pembebasan Amerika Latin, Gutierrez mengemukakan bahwa teologi tidak sama dengan kebijaksanaan, melainkan refleksi kritis atas praxis sejarah pembebasan. Ia tidak menuju pada ideologi atau sebagai penenang dari hantaman sekularisme dan konsumerisme. Gutierrez kemudian membagi teologi dalam tiga langkah. Yang pertama adalah panggilan praxis yang definitif yaitu kasih, tindakan dan komitmen untuk pelayanan sesama manusia. Ini berarti praxis untuk pembebasan dari belenggu sosial, ekonomi, politik, dll. Yang kedua teologi harus menjadi kritis baik keluar, kemasyarakatan atau kedalam, pada institusi agama itu sendiri. Dan yang terakhir ia harus berefleksi atas praxis iman.
Jika Gutierrez membagi teologi dalam tiga langkah, Segundo kemudian membagi metodenya dalam empat tahap yang ia sebut sebagai “lingkaran hermeneutik”[25]. Langkah yang pertama adalah cara kita mengalami realitas yang terumuskan. Hal ini akan mendorong kita pada posisi kesangsian ideologis. Yang kedua, kesangsian tersebut harus kita terapkan pada superstruktur. Langkah tersebut akan membawa kita pada tahapan selanjutnya dimana kita akan mulai menyangsikan bahwa interpretasi kitab suci yang ada telah melewatkan beberapa data yang penting. Dengan begitu maka kita akan memiliki hermeneutika baru atau cara baru yang kaya dan mendalam dalam menginterpretasikan kitab suci. Maka kita akan mengalami kembali realitas yang baru.
Secara ringkas dapat dikatakan metode yang digunakan oleh teologi pembebasan adalah metode analisis sejarah perjuangan kelas yang dimulai dengan praxis untuk mengubah basis hubungan sosial ekonomi. Proses refleksi teologis yang mandeg diubah dengan metode materialisme sejarah. Analisis ini kemudian disambung dengan proses eksegetis yang bersumber pada kitab suci. Teologi pembebasan juga dilengkapi oleh metode yang memiliki mekanisme untuk mengkritik dirinya sendiri. Refleksi dapat diubah dan berkembang melalui mekanisme praxis yang berkembang terus. Namun sebenarnya tidak satupun dari teologi pembebasan tersebut yang berusaha untuk menjelaskan dan menentukan secara pasti metode-metode refleksi kritis atau kesangsian yang digunakan.
Untuk menjelaskan metode yang digunakan oleh agama Islam dalam merefleksikan nilai-nilai kebebasan, Asghar Ali Engineer meruntut kembali pada sejarah berdirinya Islam. Nabi Nabi Muhammad SAW dengan Islam tidak menggunakan pendekatan dengan mengekang keinginan dengan tujuan menghindarkan ketegangan yang diakibatkan oleh perubahan tersebut. Caranya dengan mengambil nilai-nilai masyarakat suku yang tidak bertentangan dengan perubahan sejarah dengan tujuan agar tercipta keseimbangan[26]. Asghar Ali Engineer kemudian menekankan keharusan rekontruksi terhadap paradigma teologi Islam klasik untuk mengatasi berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan dalam konteks sejarah yang selalu berubah. Ini berarti paradigma dalam teologi Islam harus dipahami sebagai bersifat tentatif sehingga menjadi absah untuk menggeser sebuah paradigma suatu teologi sesuai dengan persoalan yang dihadapi umat manusia. Untuk mengkontruksi teologi pembebasan, yang pertama kali harus dilakukan, menurut Asghar Ali Engineer adalah, menyediakan landasan konseptual secara kritis dan progressif dari teks kitab suci lalu kemudian menata logika praxis kerja dalam tata kehidupan manusia. Namun afinitas ini hanya terjadi pada tingkatan analisis sosial dan bukan pada dasar filsafatnya. Teologi pembebasan kemudian akan menjadi instrumen untuk membebaskan umat manusia dari cengkraman para penindas dan memberi ilham untuk bertindak secara revolusioner dalam berjuang menghadapi tirani, eksploitasi dan penganiayaan. Artinya agama kemudian ditransformasi menjadi instrumen yang kuat untuk melakukan perjuangan dan perubahan revolusioner. Aspek-aspek teologis yang bersifat filosofis-intelektualistik harus dilepaskan karena dinilai tidak berpihak pada kaum tertindas dan kita harus kembali pada praxis historis. Ada lima hal yang menjadi dasar didalam Islam yang dianjurkan oleh Al Qur’an untuk melakukan jihad bagi pembebasan. Kelima hal tersebut bersumber pada firman Allah bahwa kriteria suatu masyarakat yang tinggi adalah keadilan[27]. Hal yang pertama, seperti telah disinggung sebelumnya, adalah zakat, Allah sangat mengecam orang-orang yang menumpuk-numpuk harta dan riba[28]. Mereka itu dianggap sebagai memakan hak orang lain dan menelantarkan anak yatim serta orang tidak mampu. Orang-orang seperti itu kemudian dicap sebagai pendusta agama dan tidak mendatangkan keadilan bagi masyarakat, melainkan kehancuran. Pembebasan manusia dari perbudakan kemudian dianjurkan dengan berbagai cara antara lain, perkawinan antara budak dengan orang bebas[29], konsekuensi tindakan yang mengharuskan seseorang membebaskan budaknya, dll. Yang ketiga adalah jihad. Jihad yang dimaksud sebenarnya adalah melindungi kepentingan orang yang tertindas dan lemah, atau untuk mempertahankan diri dari serangan musuh[30]. Keinginan untuk berbuat baik, melindungi yang lemah dan tertindas dengan kekuasaan dan menganut prinsip pertanggung jawaban merupakan hal yang mendasar dalam teologi pembebasan. Konsep yang keempat adalah tawhid. Dalam teologi pembebasan Islam, tawhid tidak hanya diartikan sebagai keesaan tuhan, tapi juga kesatuan manusia yang tidak akan tercapai tanpa terciptanya masyarakat tanpa kelas[31]. Konsep ini sangat dekat dengan semangat Al Qur’an untuk menciptakan keadilan dan kebajikan. Tawhid adalah konsep yang tidak bisa ditawar-tawar, karena sepanjang dunia masih terbagi-bagi dalam negara-negara berkembang yang tertindas dan negara-negara maju yang menindas maka kesatuan manusia tidak akan terwujud. Konsekuensinya adalah harus diciptakan kekuasaan yang bebas dari eksploitasi. Konsep yang kelima adalah iman. Iman yang sebenarnya mengimplikasikan keselamatan, perdamaian, percaya, dapat diandalkan dan yakin[32]. Namun perlu diperhatikan bahwa keyakinan terkadang buta dan irasional, maka dari itu Al Qur’an juga menganjurkan kesederajatan akal dan intelektual serta proses berpikir.
Sebuah teori yang disebut sebagai “kekerasan yang membebaskan”[33]. Teori ini menyebutkan bahwa para penindas dan eksploitator menganiaya golongan lemah dan dengan seenaknya menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kepentingannya. Dan manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas perbuatannya. Kehendak bebas dan pre-determinasi memiliki tempat yang sangat besar didalam teologi pembebasan Islam. Teologi pembebasan dalam Islam bukanlah kekuatan yang menurunkan suatu kekuasaan atas dasar kegilaan pada kekuasaan, tapi ia merupakan kesadaran kritis atas praktek ketidak adilan dan penindasan.
Teologi dapat berperan sebagai suatu ideologi pembebasan bagi yang tertindas atau sebagai suatu pembenaran penjajahan oleh para penindas. [34] Teologi memberikan fungsi legitimatif bagi setiap perjuangan kepentingan dari masing‑masing lapisan masyarakat yang berbeda. Makna ganda dari kata kerja aslama dan kata benda Islam ini, menurut Hanafi, dengan sengaja disalahgunakan untuk mendorong Islam cenderung pada salah satu sisinya, yakni tunduk.
F. Teologi Pembebasan Sebagai Gerakan Profetik: Agama Atau Marxis?
Misi gerakan Profetik melalui pintu teologi mengilhami para penerus gerakan profetik memunculkan gerakan Teologi Pembebasan. Teologi pembebasan sebagaimana pada penjelasan sebelumnya, awalnya muncul di Eropa abad XX dan menjadi studi penting bagi agama-agama untuk melihat peran agama dalam membebaskan manusia dari ancaman globalisasi dan menghindarkan manusia dari berbagai macam dosa sosial. Disamping itu, agama harus mampu menawarkan paradigma untuk memperbaiki sistem sosial bagi manusia yang telah dirusak oleh berbagai sistem dan idiologi dari perbuatan manusia itu sendiri. Perkembangan teologi pembebasan di Eropa lebih pada pemikiran, sedangkan di Amerika Latin dan Asia pada pemikiran ke gerakan untuk melawan hegemoni kekuasaan yang otoriter. Teologi pembebasan di Amerika Latin merupakan bagian dari gerakan kaum agamawan melawan hegemoni kekuasaan negara yang otoriter.
Bila dikaji lebih dalam, kasus pembebasan di Amerika Latin hakikatnya hampir sama dengan kasus negara Indonesia, dimana pada masa orde baru pemerintahan di pegang oleh kalangan militer dan didukung oleh birokrasi yang kaku, dan institusi agama yang dibentuk oleh negara untuk menjaga kekuasaan negara. Selama 32 tahun, pemerintah bertahan dengan kekuasaan dan ketergantungannya pada dunia kapitalis. Hal ini disebabkan faktor negara yang represif dan kuat. Teologi pembebasan yang berkembang di Amerika Latin telah menunjukkan keberhasilan dalam memperjuangkan hak keadilan bagi masyarakat kecil. Pertarungan antar negara, institusi agama dengan elit agama di luar institusi, dan rakyat yang tertindas menyatu mendapat kemenangan dan meruntuhkan rezim yang kuat.
Berbeda dengan di Indonesia, kuatnya negara dan melemahnya rakyat menyebabkan rakyat tidak kuat melakukan tekanan terhadap negara. Hal ini terlihat pada tahun 1980-an, kajian teologi pembebasan di negeri kita mendapat tantangan keras dari negara. Romo Mangunwijaya dan Abdurrahman Wahid adalah tokoh-tokoh yang pada awalnya sangat intens mendiskusikan teologi pembebasan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas oleh negara. Diskusi intens ini mendapat larangan dan kecaman oleh negara. Munculnya buku-buku teologi mendapat respon yang keras oleh negara dan melarangnya beredar, dengan alas n bahwa teologi adalah bagian dari ajaran dan idiologi Marxis. Hal ini terlihat dari model gerakan atau perlawanan. Teologi yang dijalankan oleh Romo Mangunwijaya dan Abdurrahman Wahid merupakan pekerjaan yang sangat mulia, yaitu membela dan membantu masyarakat kecil dari arogansi negara, dan pelarangan oleh negara tampak efektif. Akan tetapi, yang perlu diketahui, teologi pembebasan adalah bagian dari seruan agama untuk membela keadilan dan kesejahteraan umat manusia.
Jawaban yang singkat dan padat adalah bahwa teologi pembebasan maupun buku Teologi Pembebasan ini tidak mengandung ajaran Marxis/Leninis, tapi memang dalam salah satu tahapannya dapat (tapi tidak selalu) mempergunakan analisis Marxis.[35] Dan itu justru menunjukkan bahwa merekalah yang telah mengikuti ajaran Leninis yang menghalalkan faham diktatorian dengan bertindak anarkhis.
Dari segi metodenya, teologi pembebasan dalam perkembangan dari satu tahap ke tahap lainnya telah mengalami perubahan. Yang perlu ditekankan disini, yakni bahwa teologi pembebasan tidak pernah menggunakan metode Leninis yang menghalalkan diktator proletariat itu, justru melawannya. Pada tahap kedua, teologi pembebasan menambah satu lagi dari dua metode yang dipergunakannya pada tahap pertama, yakni metode analisis ekonomi-sosial dan budaya dari aliran pemikiran non-Marxis, seperti strukturalisme, neopopulisme, environmentalisme, dan futurisme.[36] Pada tahap perkembangan ketiga, teologi pembebasan sudah amat dengan kesadaran akan pentingnya tradisi-adat dan historisitas budaya masyarakat hukum adat dan masyarakat marginal. Upacara-upacara mereka, doa-doa mereka yang nampak sederhana dan kadang dahulu ditafsirkan sebagai primitif dan penyembah berhala, dengan sentuhan roh pembebasan anak-anak bangsa, justru menjadi kekuatan bertahap dalam deraan penindasan dan penderitaan. Pada tahap ini, metode ilmu antropologi menjadi dominan. Oleh karena itu, menyederhanakan anggapan bahwa teologi pembebasan mengandung ajaran Marxis/Leninis adalah sikap mempermalukan diri sendiri di hadapan masyarakat global dan terpelajar. Sebagai penutup dalam bab ini, kami hendak menekankan bahwa teologi pembebasan adalah teologi praksis non-violence, tanpa kekerasan, maka sebagaimana ditunjukkan oleh film “The Mission” hidup dengan empat pilar pembebasan anak-anak bangsa, selama sistem yang merupakan struktur dominan neo liberal dan otoriter, tidak selalu berarti hidup bebas dari penindasan, pembohongan, dan penghianatan. Kekerasan dibalas dengan kekerasan memang dapat menjadi pilihan, tetapi akan selalu melahirkan spiral kekerasan, dan tidak jarang bumerang kekerasan bagi yang melempar kekerasan yang pertama kali. Dari hasil berteologi pembebasan di atas, yakni penemuan kembali roh tradisi yang dapat mentransformasikan sikap pasif dan mengalah menjadi sikap percaya dan tekun berjuang untuk kemakmuran, kebenaran dan keadilan anak-anak bangsa dengan elegan di panggung dunia, maka kita akan melihat kemenangan menanti di ufuk depan. Globalisasi ekonomi dan politik idiologi, kita hadapi dengan wajah-wajah manusiawi yang kita ketemukan pada globalisasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya.
[1] Istilah paradigma disini meminjam istilah Thomas Kuhn. Menurutnya, paradigma merupakan suatu kondisi normal bagi suatu konsep keilmuan, baik menyangkut praktek keilmuan maupun metodologi yang telah dipraktekkan atau diterima oleh suatu kelompok masyarakat ilmiah tertentu. Lihat Thomas Kuhn, 1970, The Structur of Scientific Revolutions, Chicago : Chicago University Press, 10
[2] Teologia Religionom merupakan teologi agama-agama yang mengajarkan bagi para pemeluknya konsep keimanan, ritual dan social. yang dikenal dengan istilah Prisca teologia atau prisca Philosophia. Teologia Religionom adalah prisca Teologia dan Philosophia. Konsep ini sudah ada jauh sejak jaman Hermes atau Nabi Idris dalam tradisi Islam. Teologi dan Filsafat merupakan misi profetik dari para nabi dan para filosof untuk memberikan jawaban dan membebaskan manusia dari semua problematikanya. Ini berbeda dengan teologia Religionom yang digagas Th. Sumarthana. Gagasan Th. Sumarthana berpijak pada pengalaman Kristen Protestan terhadap kemajemukan. Konsep awal dari prisca theologia dan philosophia dari Hermes. Konsep ini sama dengan misi profetik nabi-nabi atau konsep Nubuwah dalam Islam. Salah satunya adalah bagaimana orang beriman atau beragama berhadapan dengan kehidupan sosialnya termasuk hubungan antar agama, kepercayaan dan iman. Tetapi misi kenabian atau Nubuwah tidak hanya itu, tetapi juga bagaiman memberikan pembebasan terhadap ketertindasan, keterasingan dan diskriminasi melalui pintu teologi. Jadi saya memakai istilah ini berangkat dari istilah yang dikembangkan oleh Hermes dengan prisca teologia dan Philosophia. Dulu anatara agama dan filsafat merupakan satu kesatuan. Agama dengan filsaat mempunyai misi kenabian.
[3] Secara etimologis, sosialisme berasal dari bahasa Latin “SOCIUS” yang berarti sahabat atau teman. Istilah ini merupakan suatu prinsip pengendalian harta dan produksi serta kekayaan oleh kelompok. Lihat Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta :Gramedia, 1996), hal. 1030-1032). Gerald Braunthal mendefinisikan sosialisme sebagai suatu teori ekonomi dan politik yang menekankan pentingnya peranan sosial dan pemerintah dalam menguasai alat-alat produksi dan distribusi barang. Untuk lebih jelasnya baca Gerald Braunthal, 1996, Socialisme and Social Democracy, dalam Encyclopedia Americana vol 25, 146 Lawan dari sosialisme adalah kapitalisme yang justru menekankan pentingnya kepemilikan swasta, kompetisi dan laba. Disamping itu Term sosialisme merupakan suatu teori dan gerakan untuk menentang kaum borjuis dan menekankan pada tujuan hidup bersama dan kepemilikan umum. Istilah ini dipakai pertama kali oleh Carl Grunberg di perancis pada tahun 1831-1832 dan Inggris pada tahun 1837. Lebih jelasnya lihat C.D. Kernig, Marxism, Communisme and Western Society : A Comparative and Encyclopedia (Vol III), Hal. 442-449. Istilah ini kemudian menjadi umum di Inggris dan dengan dipelopori oleh Robert Owen, mereka menuntut komunitas-komunitas yang bersedia hidup untuk bekerja dan belajar bersama. Robert Owen merupakan Bapak penemu gerakan kerjasama yang kemudian mengilhami formulasi pengertian sosialisme dari berbagai sudut pandang. Istilah sosialisme digunakan secara luas pada tahun 1830-an oleh para pengikut Saint-Simon untuk menentang individualisme. Saint – Simon merupakan pendiri sosialisme perancis yang menganjurkan pembaharuan pemerintah yang bermaksud mengembalikan harmoni pada masyarakat. Margaret Cole, 1984, Socialisme dalam The Encyclopedia of Philosophy, (Ed) Paul Edward, New York : Macmillan Publication, 467 – 449
[4] Berdasarkan perkembangan dan cita-cita sosialisme, maka perjuangan sosialisme mencapai puncak prosesnya pad Marx. Marx memberi landasan filosofis-ideologis terhadap gerakan pembebasan kaum tertindas dari cengkraman kaum pemilik modal. Marx mampu memberikan analis kritis-emansipatoris terhadap struktur masyarakat yang dibatasi oleh ekonomi dan politik sebagai suatu perbedaan kelas, kemudian menjadi ideologi bagi kaum tertindas. Marx maupun pengikutnya (Marxisme) mempunyai suatu kesepakatan gerakan yaitu pembebasan. Untuk lebih jelasnya tentang Karl Marx, lihat Franz M. Suseno, Pemikiran Karl Marx, ( Jakarta : Gramedia, 1999), hal. 13 – 17.
[5] Guiterrez merupakan pelopor teologi pembebasan di Amerika Latin yang mempergunakan Marxisme sebagai metode kritis terhadap realitas yang ada. Teologi pembebasan meletakkan beberapa dasar pembebasan, yaitu (a) bebas dari kendala ekonomi, sosial dan politik (b) bebas manusiawi yang menciptakan manusia baru dalam masyarakat solidaritas baru (c) bebas dari dosa dan masuk dalam persekutuan dengan Tuhan dan sesama manusia, lihat FR Wahono Nitiprawiro, Teologi Pembebasan, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1985), hal 55.
[6] Hasan Hanafi dan Asghar Ali Engineer merupakan seorang teolog Islam yang progressif yaitu meletakkan pembebasan dalam kerangka Islam dengan pendekatan Marxisme. Hasan Hanafi pemikir radikal dari Mesir dengan karya utamanya “Kiri Islam, Minal Aqidah ila al-Tsaurah, Al-Istighrab”, sedangkan Asghar Ali Engineer merupakan pemikir Pakistan dengan karyanya Islam dan Pembebasan. Kedua tokoh pemikir ini merupakan intelektual Muslim yang meletakkan semangat pembebasan sebagai élan vital agama Islam, karena menurut kedua tokoh ini bahwa para nabi dan rosul, khususnya nabi Muhammad adalah nabi yang meletakkan dasar-dasar pembebasan umatnya. sehingga élan vital perjuangan rosul tersebut mandeg tatkala umat Islam sudah terlena dengan hasil karya para imam mujtahid. Untuk itu, kedua pemikir progresif ini membuka kembali jalan-jalan progresif dan pembebasan yang dilakukan oleh nabi. Untuk lebih jelasanya, lihat Hasan Hanafi, Kiri Islam, (Jogjakarta : LKIS, 1994). Dan bandiangkan dengan Asghar Ali Engineer, Islam dan Pembebasan, (Jogjakarta : LKIS, 1995) dan karya-karya lainnya.
[7] Karl Rahner dan H. Vorgrimler (1965) dalam Conscise Theological Dictionary, London: Burns and Oates, hlm. 456-458, memberikan keterangan yang jelas.
[8] Istilah “praksis” diterangkan sebagai kiprah manusia yang menciptakan perubahan konsep, yang pada gilirannya mengubah cara berkiprah kembali, demikian seterusnya. Kata tersebut berasal dari tulisan-tulisan Marx yang melalui psikoanalisisnya Sigmund Freud dan teori-teori ilmu pengetahuan modern lainnya telah digali kembali oleh sekolah filsafat Frankfurt (Horkheimer Marcuse dan lain sebagainya). Di Amerika Latin istilah “praksis” tersebut telah diperkenalkan oleh Paolo Freire (1972) sebagaimana tampak dalam bukunya Pedagogy of the Opressed; Midleses: Penguin Books, hlm. 52. Tentang istilah “praksis” tersebut dapat dilihat pula pada; Richard Alan dan John Bowden (1983), A New Dictionary of Cristian Theologi (London: SCM Press).
[9] Baca Hassan Hanafi, Kiri Islam, dalam Kazuo Shimogaki, 1993, Kiri Islam Antara Modernisme dan Postmodernisme, Telaah Kritis Atas Pemikiran Hassan Hanafi ter. M. Imam Aziz, M. Jadul Maula Yokyakarta: Lkis, xiii.
[10] Asghar Ali Engineer, 1987, Islam and Its Relevence to Our Age, Bombay: Institute of Islamic Studies, 74-98.
[11] Kuntowijoyo mencoba memadukan antara sains sosial Barat sebagai perangkat dalam memahami ide moral teks suci al-Qur’an. Teks al-Qur’an sarat dengan konsep transformasi sebagai misi gerakan kenabian (profetik). Karena itu, peran ilmu-ilmu sosial dalam menganalisa problem kemasyarakatan sangat dibutuhkan dalam memahami kondisi masyarakt yang disintesiskan dengan pemahaman Islam . Ibid, 330-335
[12] Muhammad Iqbal, 1981, The Recontruction of Religion Thought in Islam, New Delhi: Kitab Bhavan, hal. 123.
[13] Agama sebagai candu masyarakat yang diucapakan Karl Marx sesungguhnya bukanlah ungkapan Marx yang sebenarnya, tetapi ungkapan dan istilah yang digagas oleh Feurbach seorang teolog Katolik. Ungkapan ini menjadi terkenal setalah Marx mempopulerkannya, sehingga banyak orang beranggapan jargon itu adalah perkataan Marx. Lihat Jeroslav Pelikan (ed) 1990, The Treasury of Modern Religious Thought, London : Little Brown and Company, 319
[14] Istilah “pembebasan” ini dijelaskan dalam Gustavo Gutierres (1973), Theology of Liberation, Maryknoll: Orbis Books, hlm. 235.
[15] Saiful Arif, (ed) 2001, Pemikiran-Pemikiran Revolusioner, Yogyakarta : Averroes Press & Pustaka Pelajar, 207
[16] Asghar Ali Engineer, 1999, Islam dan Teologi Kebebasan, Jogjakarta : Pustaka Pelajar, 33
[17] Ibid. v
[18]Muhidin M. Dahlan dan Islah Gusmian (ed). 2002, Sosialisme Religius: Suatu Jalan Keempat?, Yogyakarta : Kreasi Wacana, 185
[19] Fr. Wahono Nitiprawiro, Teologi Pembebasan – Sejarah, 13
[20] Michael Amaladoss, 2000, Teologi Pembebasan Asia, Yogyakarta: Insist & Pustaka Pelajar, vi
[21] Gusmian, Islah, Dahlan, Muhidin M. (ed), Sosialisme Religius, 196
[22] Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, 2
[23] Pembahasan mengenai teologi pembebasan Asia hingga akhir bab ini merupakan ringkasan dari tulisan Michael Amaladoss, mengenai teologi pembebasan Asia.
[24] Micahel Lowy Teologi Pembebasan 41
[25] Ibid, 36
[26] Saiful Arif, (ed), 2001, Pemikiran-Pemikiran Revolusioner, Jogjakarta: Averroes Press & Pustaka Pelajar, 181
[27] Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Kebebasan, 7
[28] Ibid, 6
[29] Ibid, 5
[30] Ibid, 9
[31] Ibid, 11
[32] Ibid, 12
[33] Ibid, 34
[34] Hassan Hanafi,”Ideologi dan Pembangunan”, dalam ed. Shonhaji Sholeh, Agama, Ideologi dan Pembangunan (Jakarta: P3M, 1991) 53-63
[35] Lihat Francis Wahono Nitiprawiro, Teologi pembebasan: sejarah, metode, praksis, dan isinya, (Yogyakarta: LKIS, 2000), cet. I, kata pengantar, hlm. XXI.
[36] Tentang uraian aliran “strukturalisme”, lihat: Koentjaraningrat, Sejarah teologi antropologi (Jakarta: UI Press, 1987), Jilid I Uraian aliran “neopopulisme”, lihat: Gavin Kitcing, Development and Underdevelopment in Historical Perspective (London: Mithuen, 1982). Uraian aliran “environmentalisme”, lihat Herman E. Daly and John B. Cobb Jr., For the Common Good Rechreciing the Economy Toward Community, the Environment and Sustainable Future (Boston: Beacon Press, 1989). Uraian aliran “Futurisme”, lihat: Alvin Toltler, Future Shack, dan John Nesbil, Megatrends.
